Berbagi Pengalaman Belajar S2 dan S3 di Inggris

Berbagi Pengalaman Belajar S2 dan S3 di Inggris 4.65/5 (93.08%) 13 votes

Banyak orang ingin sekali belajar di luar negeri dan beranggapan bahwa sekolah di luar negeri merupakan hal yang menyenangkan (exotic). Pertanyaannya adalah bagaimana sebenarnya kondisi belajar di luar negeri dan bagaimana sebaiknya sikap kita ketika berada di luar negeri untuk belajar.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membagi pengalaman saya belajar di Inggris pada tingkat master dan doktoral. Beberapa hal yang akan saya singgung meliputi alasan-alasan saya belajar di Inggris, perbedaan-perbedaan budaya yang saya alami, sistem rekrutmen mahasiswa di perguruan tinggi di Inggris, cara berpikir di tingkat master dan doktoral, cara mencari akomodasi, perbandingan pelajaran untuk anak-anak tingkat SD dan sopan santun, masalah-masalah interaksi dengan penduduk lokal asing dan Indonesia dan masukan-masukan.

Saya belajar di Inggris pada tingkat master ketika saya berkesempatan mendapat beasiswa Chevening dua kali, yakni pada tahun 1999 dan 2002. Pada saat mendapatkan beasiswa yang pertama, niat saya hanya untuk mengikuti kursus British Studies selama sekitar tiga minggu. Tetapi, karena ada halangan ketika itu, saya terpaksa membatalkan kepergian saya. Pada tahun 2002 saya kembali mengikuti seleksi dan berhasil lolos. Saya sempat berada di Inggris selama satu tahun pada tahun 2003-2004. Yang saya catat waktu itu adalah bahwa saya mendapat beasiswa dari pemerintah Inggris karena memang saya akan mempelajari Kajian Britania.

Sementara itu, pada tingkat doktoral, keadaan saya lain. Saya merasa tidak percaya diri ketika akan mengambil program S3 di universitas di Indonesia karena prodi di universitas tersebut menilai kelayakan dari IP kumulatif saya. Sementara, IPK saya tidak sampai 3.0 yang menurut ukuran di prodi di universitas itu masih perlu matrikulasi, surat rekomendasi yang kuat, dan syarat-syarat lain yang menyulitkan saya. Untuk matrikulasi, satu kredit saja harus membayar sekitar Rp. 250.000,-, padahal saya mungkin bisa mengambil belasan kredit sebelum bisa masuk di program tersebut. Sementara itu, syarat masuk di program doktoral perguruan tinggi di Inggris meliputi proposal, skor IELTS 7,0, penyandang dana, dan pembimbing yang bersedia membimbing kita. Saya merasa bahwa syarat masuk ke perguruan tinggi di Inggris lebih mudah dan kita tidak perlu mengikuti matrikulasi yang jumlahnya bisa belasan kredit dan tidak langsung berhubungan dengan topik riset kita. Yang menarik di Inggris, jika skor IELTS kita tidak mencukupi untuk masuk program, kita masih tetap akan diterima, yakni dengan mengikuti program kursus pre-sessional English.

Hidup di Inggris sebagai orang pendatang juga akan menemui beberapa perbedaan. Perbedaan ini meliputi cuaca (weather), makanan (food), bahasa (language), kerangka berpikir (frame of thought), dan hubungan sosial (social relationship)

Pertama, sehubungan dengan perbedaan cuaca, saya merasa bahwa tidak mudah menyesuaikan diri dengan cuaca di Inggris. Istilah yang mewakili untuk kondisi perbedaan semacam ini adalah ungkapan yang maksudnya bercanda, yakni bahwa ‘di Inggris hanya ada dua musim, yakni musim dingin dan dingin sekali’. Musim dingin bukanlah apa yang dirasakan oleh orang Indonesia ketika winter, tetapi justru ketika summer. Meskipun summer, tetapi untuk orang Indonesia, hawa di Inggris masih di anggap dingin. Apalagi ketika kita berada di winter.

Kedua, tentang makanan. Yang pasti, kita tidak bisa berharap bahwa apa yang kita makan di Indonesia akan dengan mudahnya kita dapat di Inggris. Mencari makanan siap saji model Indonesia barangkali tidak mudah, apalagi kalau lokasi kita tinggal jauh dari London. Alternatif yang bisa dicoba barangkali adalah makanan non Inggris seperti kebab. Masalah lain adalah masalah kehalalan makanan. Untuk para Muslim, barangkali akan selalu jadi perhatian apakah makanan siap saji yang kita beli di supermarket halal. Yang bisa dicatat adalah bahwa kalau kita merasa seperti bisa selalu makan makanan Indonesia seperti di Indonesia selama kita di Inggris, kita akan terbantu untuk merasa betah tinggal di Inggris.

Ketiga, tentang bahasa. Berkaitan dengan kondisi pasca kolonial (pasca kemerdekaan negara-negara yang dulunya terjajah), tentu saja Inggris sudah penuh dengan para pendatang yang berasal baik dari Eropa, Asia, dan Afrika sehingga apa yang kita bayangkan Inggris sebagai negara orang kulit putih bisa jadi tidak benar. Di kota-kota tertentu di Inggris, akan lebih banyak kita bertemu orang-orang non Inggris dan juga menggunakan bahasa nasional mereka. Karena itu, interaksi dengan orang di Inggris bisa berarti interaksi dengan tidak hanya satu bahasa, tetapi berbagai bahasa seperti India, Bengali, Pastun, Somalia, dan sebagainya. Kemampuan kita berbahasa lebih banyak akan membantu kita bertahan hidup lebih bagus, termasuk untuk mencari pekerjaan ketika beasiswa kita tidak cukup.

Keempat, tentang kerangka berpikir. Perbedaan ini akan terasa ketika kita masuk perguruan tinggi di Inggris baik pada tingkat master maupun doktoral. Biasanya, kita disyaratkan untuk masuk dengan skor IETLS 6.5 biasanya untuk master atau 7,0 atau lebih untuk doktoral. Jika, syarat ini tidak terpenuhi, masih dimungkinkan untuk diterima di perguruan tinggi tersebut, tetapi harus mengikuti program kursus bahasa Inggris yang diadakan sebelum kita diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi terkait. Tentang pre-sessional English ini, ada hal yang menarik untuk dicatat, yakni tentang relevansi kursus tersebut untuk riset kita secara langsung. Program semacam ini di tingkat master dan doktoral biasanya mencakup materi critical thinking. Materi ini digunakan untuk melatih kita merumuskan masalah, mempertanyakan pendapat orang lain, berargumen, melihat kelemahan argumen lawan kita, dan sebagainya (Brink-Budgen, 2011). Sehubungan dengan critical thinking, ada hal-hal yang selalu ditekankan dalam cara berpikir Britania, yakni bahwa pada setiap isu yang dibahas harus ditunjukkan pro dan kontranya. Setelah itu, bagaimana pendapat atau pandangan kita sendiri terhadap isu tersebut harus ditunjukkan: apakah kita pro atau kontra atau tidak berada pada kedua posisi tersebut sama sekali. Pada titik itulah tampak orisinalitas dalam karya yang kita tulis. Titik ini pula yang barangkali tidak diberi penekanan ketika kita belajar di Indonesia.

Kelima adalah hubungan sosial. Masalah-masalah yang berkaitan dengan interaksi dengan penduduk lokal juga perlu diperhatikan. Penduduk lokal ini bisa jadi orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Inggris atau warga negara Inggris, entah asli keturunan Inggris atau orang dari negara lain. Hal yang perlu diperhatikan dalam interaksi dengan siapapun perlu adalah sikap berhati-hati dan tidak mudah percaya karena jika tidak, bisa terjadi hal-hal yang merugikan dan tidak kita inginkan menimpa kita. Kadang-kadang, masalah bangsa tidak menjamin bahwa orang dari satu bangsa lebih baik dari orang dari bangsa lain. Salah satu karakter orang Inggris yang berbeda dari orang Indonesia adalah bahwa sebagian besar mereka tidak akan menyapa kita seperti kita berinteraksi dengan orang di Indonesia.  Bahkan, kadang-kadang, kalaupun kita menyapa mereka, mereka akan menjawab seperlunya. Pengetahuan ini penting agar ketika kita berinteraksi dengan mereka, kita tidak perlu berharap terlalu jauh. Yang perlu dipahami adalah bahwa sebagian besar orang asli Inggris tidak seramah orang Indonesia yang lebih cepat tersenyum atau menyapa, bahkan dengan orang yang baru dikenalnya atau belum dikenalnya. Ada kecenderungan bahwa orang Inggris lebih banyak diam dibanding orang-orang Indonesia. Saking dominannya ciri diam ini hingga wartawan Inggris menulis judul bukunya ‘The Silent State’ (Heather Brookie, 2011) untuk menunjuk birokrasi Inggris yang penuh kerahasiaan.

Hal lain yang perlu di singgung adalah masalah mencari akomodasi di Inggris. Salah satu hal yang selalu menjadi pertimbangan dalam mencari rumah adalah jumlah anak. Makin banyak jumlah anak, makin diharuskan banyak kamar yang akan disewa, makin harus ada dana yang banyak, dan makin tidak mudah kalau tidak punya dana yang banyak. Misalnya, keluarga dengan anak dua akan cenderung lebih mudah mendapatkan tempat-tempat akomodasi tertentu yang murah, seperti Nansen Village di London <http://www.nansenvillage.co.uk/>, yang tidak mungkin diperoleh oleh keluarga dengan anak lebih dari dua. Ada web-web yang sering digunakan untuk memudahkan pencarian akomodasi, yakni <www.student.spareroom.co.uk>; <www.rightmove.co.uk>; <www.findaproperty.co.uk>; <www.zoopla.co.uk>; dan <www.moveflat.com>.

Selain itu juga, jika kita membawa keluarga di Inggris, ada hal yang barangkali perlu diperhatikan sehubungan dengan pendidikan anak-anak. Salah satunya adalah standar mata pelajaran. Saya ingat bagaimana anak saya merasa lebih senang belajar di Inggris dibanding di Indonesia karena di Inggris anak-anak tidak boleh tertekan sehingga mata pelajaran yang dihadapi tidak seberat di Indonesia. Salah satu contohnya adalah pelajaran matematika di Inggris pada kelas/tingkat tertentu dianggap lebih mudah dibanding pelajaran yang sama di Indonesia pada kelas yang sama. Resikonya, kalau kita kembali ke Indonesia, kita terpaksa harus memacu anak kita agar bisa menguasai lebih banyak pelajaran dan lebih sulit. Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa sopan santun model Inggris ini lain. Misalnya, makan dengan tangan kiri bukanlah hal yang aneh di Inggris. Kadang bahkan anak-anak kecil memaki orang tuanya. Selain itu, pendidikan agama untuk anak-anak di SD hanya berupa pengetahuan agama-agama pokok saja, tidak ada penekanan sesuai dengan agama masing-masing.

Sebagai penutup, ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan belajar di Inggris. Dalam hal masalah dalam negeri kita, perlu dua sikap yang jelas. Dengan orang non Indonesia, kita perlu bersikap membela negara kita bagaimanapun parahnya kondisi negara kita dengan mencoba memberikan citra positif negara kita ke orang non Indonesia. Sementara itu, dengan orang-orang Indonesia, kita perlu banyak bertukar pandangan dan berdiskusi tentang bagaimana masalah-masalah negara kita bisa dipecahkan. Tentang melihat Inggris, kita tidak perlu terlalu silau dengan kondisi di Inggris. Perlu selalu digunakan perspektif komparatisme antara Indonesia dan Inggris dalam banyak hal sehingga kita akan mencapai kesimpulan bahwa kedua negara pasti ada kekuatan dan kelemahannya dan ini akan membuat kita tidak terlalu membela semua hal yang berbau keinggrisan dan merendahkan semua hal yang berasal dari Indonesia. Selain itu juga, berdasar pengalaman saya, ternyata tidak semua dosen di universitas di Inggris sebenarnya lebih tahu tentang hal-hal yang berada di Indonesia dibanding kita yang tinggal di Indonesia lebih lama. Banyak dosen di perguruan tinggi terkenal di Inggris, seperti di London yang bicara tentang aspek-aspek Indonesia, tetapi mereka menggunakan perspektif mereka sendiri (outer perspective) sehingga bisa terjadi kesalahpahaman ketika kerangka tersebut kita pahami dengan kerangka yang kita punyai selama ini di Indonesia. Dalam hal-hal seperti ini, kita perlu memberikan pandangan kita sehingga terjadi keseimbangan perspektif dalam melihat suatu isu tentang Indonesia.

Referensi

Brink-Budgen, Roy van den. 2011. Critical Thinking for Students. How-to-books Ltd: Oxford.

Brooke, H. 2011. The Silent State. London: Windmill Books

______________________________________________

Story source: atdikbudlondon.com

Copyright © 2012 Atdikbudlondon.com
38 Grosvenor Square, London W1K 2HW. Phone +44 20 7499 7661. Fax. +44 20 7491 4993. Contact
All Rights Reserved | Developed by Indonesian Education Attaché Office in London, Embassy of the Republic of Indonesia | Template by: DevPress

1,864 total views, 2 views today

Arif Rokhman

Arif Rokhman

Muh Arif Rokhman adalah pengajar jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Ia pernah mengikuti konferensi tentang British Cultural Studies di Universitas Warwick (1995), belajar pada program pasca sarjana di bidang Critical Theory and Cultural Studies di Universitas Nottingham (2003-2004) dan sedang menempuh S3 pada program studi Kajian Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies (SOAS) Universitas London sejak 2009.
Arif Rokhman

Latest posts by Arif Rokhman (see all)